“Anda mengidap kanker otak stadium akhir. Pada stadium ini sudah tidak ada harapan untuk sembuh. Obat-obat yang kami berikan kepada Anda hanya untuk mengurangi rasa sakit, namun tidak untuk menyembuhkan. Umur Anda mungkin sudah tidak lama lagi, menurut perkiraan medis hanya tinggal sebulan lagi. Namun itu hanya perkiraan kami, sedangkan kapan pastinya, hanya Tuhan yang tahu. Anda hanya bisa berharap mukjizat dari Tuhan.”
Kata-kata yang diucapkan oleh dokter tadi terus saja lekat diingatanku. Umurku tidak panjang lagi. Satu bulan. Ya, kata dokter itu mungkin umurku tinggal satu bulan. Aku takut! Aku takut mati! Aku tidak mau mati! Masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Aku masih ingin melihat indahnya sinar matahari pagi sambil menghirup segarnya udara yang belum tercemari oleh polusi. Aku masih ingin melihat betapa indahnya pemandangan matahari terbenam dari tepian pantai. Aku masih ingin melihat indahnya bintang-bintang yang berkelip dan rembulan yang bersinar redup yang menjadikan suasana malam sangat indah. Menikmati indahnya pemandangan dari puncak bukit. Aku masih ingin menikmati semua itu.
Menikmati semua itu? Tiba-tiba aku termenung. Siapa yang memberiku kenikmatan seperti itu? siapa yang telah menciptakan matahari sehingga ia terlihat indah di waktu terbit dan terbenam? Siapa yang telah menjadikan bintang-bintang dan rembulan sehingga membuat malam menjadi tak lagi kelam? Siapa yang menjadikan pepohonan sehingga terlihat indah ketika dilihat dari atas bukit? Lalu siapa juga yang selama ini membiarkanku menghirup udara sebebas-bebasnya tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun? Yang telah memberiku mata sehingga aku bisa melihat keindahan-keindahan dunia ini? Bahkan siapa yang telah memberikan nyawa kepadaku?
Sayup-sayup terdengar suara adzan Maghrib dari sebuah masjid yang terletak di seberang jalan. Astaghfirullahaladzim… Sekarang aku tahu siapa yang telah menciptakan matahari, siapa yang telah menciptakan bulan dan bintang, yang telah menjadikan pepohonan, yang telah membiarkanku bernafas dengan leluasa, yang telah memberi aku penglihatan, dan bahkan yang telah memberi aku nyawa. Ya, kini aku tahu siapa dia. Dia adalah yang selama ini aku lupakan, yang selama ini tak kuakui keberadaannya meskipun aku mengaku Islam, dia yang selama ini tak pernah kusebut namanya. Dia adalah Allah! Ya Tuhan…apa aku masih pantas menyebut nama itu, sedangkan apa yang telah aku lakukan selama ini? Apa aku pantas menyebut nama-Nya yang suci dan agung itu?
Tiba-tiba aku merasakan tubuhku bergetar hebat dan air mataku mengalir dengan derasnya. Aku tak kuasa membendungnya. Aku teringat apa yang selama ini aku lakukan, sungguh sangat jauh dari perintah-Nya. Bahkan selama ini aku durhaka kepada-Nya. Ya Allah…apakah Engkau masih sudi menerimaku lagi? Aku tak peduli apakah nantinya Ia akan menerimaku lagi atau tidak. Hatiku menyuruhku untuk mendekati masjid itu. Kakiku seolah didorong oleh suatu kekuatan yang tak terlihat untuk berjalan menuju arah itu. Dengan air mata yang masih menetes, aku mantapkan kakiku untuk berjalan ke tempat itu.
Aku langsung merasakan suasana teduh dan nyaman yang tak pernah kurasakan selama ini. Seolah tempat ini dinaungi oleh puluhan pepohonan rimbun yang tak terlihat. Segera kaki ini kulangkahkan menuju tempat wudhu. Tapi aku lupa bagaimana cara berwudhu. Aku terdiam dan mengamati orang di sebelahku, lalu aku menirukan gerakannya. Ketika wajah ini terbasuh dengan air wudhu, sungguh aku merasakan kesegaran dan kesejukan yang luar biasa. Aku jadi berpikir, apakah seperti ini sejuknya air di syurga? Ah…pasti lebih sejuk lagi. Bisakah aku merasakan kesejukan air syurga itu? Ya Allah…apakah aku pantas merindukan syurga-Mu setelah apa yang aku lakukan selama ini? Segera kuselesaikan wudhuku ketika terdengar suara iqamat. Aku segera ikut berdiri di antara barisan orang-orang yang akan menghadap Allah ini. Tiba-tiba tubuhku gemetar, sekarang aku akan menghadap Allah! Hal yan selama ini sudah lama kutinggalkan. Aku menggigil ketika aku mengangkat tanganku untuk bertakbir. Allahu Akbar!
Aku benar-benar menikmati bacaan yang dibawakan oleh imam sholat ini. Suaranya begitu merdu dan indah. Sehingga tanpa terasa air mata ini menetes. Setelah selesai membaca Al-Fatihah, beliau melanjutkan membaca surat Ar-Rohman. Ya Allah…aku sungguh tak kuasa menahan tangisku lagi. Aku pun menangis sesenggukan mendengarnya. Terjawablah semua pertanyaan-pertanyaanku tadi.
“(Allah) yang Maha pemurah, Yang Telah mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. Dan Allah Telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah Telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya). Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?…” (QS. Ar-Rahmaan : 1-13).
Betapa selama ini aku sering mendustakan nikmat-nikmat yang telah Ia berikan? Aku tak pernah mensyukuri apa yang telah ia berikan padaku. Teringatlah semua dosa-dosa yang pernah aku lakukan. Aku pernah mengusir seorang pengemis tua yang kaki kanannya sudah tidak ada. Aku bahkan juga mencaci-makinya. Padahal dia hanya meminta sedikit belas kasihanku untuk memberikannya beberapa keping uang logam. Namun aku sama sekali tak punya rasa kasihan. Aku usir dia. Bahkan ketika dia masih bertahan untuk mendapatkan sedikit sedekah, aku malah mendorong tubuhnya yang sudah uzur itu. Dia yang berdiri hanya dengan satu kaki dan dibantu dengan sebuah tongkat tentu saja langsung jatuh ke tanah. Tidak hanya itu, aku bahkan meludahinya. Astaghfirullahaladzim… Pengemis itu berdiri dengan susah payah. Ketika akhirnya dia sudah bisa berdiri, ia berkata lirih “Semoga Allah mengampunimu anakku”. Sungguh, tidak ada sumpah serapah atau umpatan yang keluar dari mulutnya. Lalu dia melangkah pergi meninggalkanku yang dengan pongah melihat ke arahnya.
Tidak hanya itu. Selama ini aku menghabiskan waktuku hanya untuk berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang. Aku sering melewatkan malam dengan mabuk-mabukan dan berjudi dengan teman-temanku. Menghabiskan uang untuk bersenang-senang. Aku tak pernah mau peduli dengan orang lain. Bahkan ketika beberapa orang remaja datang ke rumahku untuk meminta sumbangan untuk pembangunan masjid di kompleks perumahan itu, aku malah mengusir mereka dan mencaci-maki mereka. Sungguh begitu banyak dosa yang telah aku lakukan.
Hingga akhirnya beberapa hari yang lalu aku merasakan sakit yang amat sangat di kepalaku. Rasanya kepala ini mau pecah. Tiba-tiba akupun tak sadarkan diri. Ketika aku sadar, aku telah terbaring di kamar tidurku. Ternyata sopir dan pembantuku mendengar teriakanku dan segera berlari ke arahku. Namun ketika sampai, mereka mendapati diriku sudah tak sadarkan diri. Mereka segera menidurkanku ke tempat tidur dan memanggilkan dokter untukku. Namun ketika dokter itu sampai, aku sudah sadarkan diri. Aku menolak untuk diperiksa. Aku bilang aku tak apa-apa. Dan aku suruh dokter itu pulang.
Namun semenjak saat itu aku jadi sering merasakan pusing dan sakit kepala yang luar biasa. Karena sudah tak tahan dengan rasa sakit ini, aku memutuskan untuk periksa ke dokter. Dan ternyata, aku mengidap kanker otak stadium akhir. Dokter itu bilang umurku sudah tidak lama lagi. Hanya sebulan, ya… hanya sebulan saja aku akan hidup lagi. Setelah itu aku akan mati. Tapi itu kan kata dokter. Bagaimana kalau ternyata sebelum satu bulan itu aku sudah mati? Bukankah di dunia ini tidak ada yang tahu berapa lama umur seseorang dan kapan ia akan mati? Kalau ternyata minggu depan atau mungkin malah besok pagi Tuhan mengambil nyawaku, apakah aku sudah siap? Aku tidak mau mati sekarang sedangkan banyak sekali dosa-dosa yang telah aku lakukan.
Aku kini menyadari bahwa ternyata aku hanyalah makhluk yang sangat lemah. Aku tak mampu berbuat apa-apa tanpa belas kasih dari Allah. Aku hanyalah seorang makhluk yang hina. Betapa selama ini aku sangat sombong dengan membanggakan kekayaan dan kepintaranku. Namun aku lupa siapa yang telah memberikan semua kekayaan dan kepintaran yang aku miliki itu. Aku lupa pada penciptaku, pada Zat yang telah memberiku nyawa, dan memberiku segala apa yang aku inginkan, meskipun aku tak pernah mensyukurinya. Dia yang sangat pengasih, bahkan kepada hamba-Nya yang sangat pembangkang seperti aku. Aku telah melupakan Tuhanku, Allah!
Dan kini, setelah sekian lama aku meninggalkannya, sekarang aku bersimpuh di hadapan-Nya. Memohon ampun kepada-Nya, dan mengharapkan sedikit belas kasihan-Nya kepadaku, seperti yang dilakukan pengemis tua dulu kepadaku, bahkan kini aku lebih hina dari pengemis tua itu. Kini aku bersimpuh di hadapan-Nya, mencoba mengemis sedikit cinta-Nya untukku. Semoga Dia masih bersedia mengampuniku. Semoga dia masih sudi menerimaku. Dan semoga dia bersedia bertemu denganku jika nanti aku harus mati. Sekarang aku tak peduli lagi kapan aku akan mati. Kapan Dia akan memanggilku. Yang perlu aku lakukan adalah memanfaatkan sisa waktu yang masih Ia berikan kepadaku untuk memohon ampun pada-Nya. Bertaubat pada-Nya. Dan memperbaiki semua kesalahan yang telah aku lakukan. Kini perasaanku lebih tenang. Kulangkahkan kakiku keluar dari masjid. Di luar, aku mendengar sayup-sayup lantunan nasyid dari sebuah rumah yang terletak di sebelah masjid. Syairnya sungguh mempunyai arti yang sangat dalam bagiku.
Wahai pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dari-Mu
Kupasrahkan semua pada-Mu
Tuhan baru kusadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cinta-Mu
Kata-kata cinta terucap indah
Mengalir berdzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta airmataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah
Selama ini Ya Ilahi
Muhasabah cintaku
Tuhan kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku dengan-Mu
By : Ukh_tRieX
(Terinspirasi dari nasyid Muhasabah Cinta-Edcoustic)